KEUTAAM BULAN RAMADHAN.
A.
Bulan Ramadlan Pintu Surga Dibuka Pintu Neraka
Ditutup
1. Matan Hadits.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فتِّحَتْ
أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ
الشَّيَاطيِنُ- أخرجه البخاري في: 30 كتاب الصوم: 5 باب
هل يقال رمضان أو شهر رمضان
2. Mufradat Kalimat.
فتِّحَتْ
ِ = dibuka
وَغُلِّقَتْ = ditutup
سُلْسِلَتِ = dirantai
3. Terjemah Hadits
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. telah bersabda:
“apabila telah masuk bulan ramadhaan maka dibuka pintu-pintu langit, ditutup
pintu-pintu nerakajahannam dan dibelenggulah para syaithan”. (HR.
Bukhari).
4. Penjelasan Singkat Hadits,
Menurut Ibnu
Faris Kata Ramadlan (رَمَضَانَ) dengan huruf Rha (ر), Mim (م) dan Dlad (ض), menunjukkan kepada sesuatu yang panas, kata
al-Ramadl ( الرمض)
berarti batu yang panas karena sangat panasnya terik matahari, kata Ramdlan juga
berarti hari yang sangat panas karena sangat panasnya terik matahari sehingga
kata ramadlan (الرمضان)
diartikan dengan membakar.[1]
Dalam kamus al-Muhith disebutkan bahwa kata Ramadlan jika dikaitkan
dengan puasa maka makna yang dimaksud adalah panasnya perut orang yang berpuasa
atau terbakarnya dan hangusnya dosa –dosa orang yang berpuasa.[2]
Dari pendapat dua
pakar bahasa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kata ramadlan dalam
pengertian bahasa berarti hari yang sangat panas karena sengatan matahari dan karena panas dan teriknya sinar matahari
tersebut batu yang terkena sengatan
panas matahari menjadi sangat panas laksana membakar. Jika dikaitkan dengan
puasa maka berarti panasnya perut dan kerongkongan serta kehausannya orang yang
berpuasa, atau hangusnya dosa-dosa orang
yang berpuasa karena terbakar akibat melaksanakan ibadah puasa di bulan
ramadlan.
Sabda Rasulullah
saw: َ إِذَا دَخَلَ
شَهْرُ رَمَضَانَ فتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ“apabila telah masuk bulan ramadhaan maka dibuka pintu-pintu
langit" dalam riwayat lain berbunyi: إِذَا جَاءَ رَمَضَان فُتِّحَتْ
أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
apabila telah datang Ramdlan maka dibuka pintu-pintu surga, atau
dalam riwayat yang lain: إِذَا كَانَ رَمَضَان فَتَحْت أَبْوَاب الرَّحْمَةapabila
telah ada ramadlan maka dibukalah pinti-pintu rahmat"
Menurt Badruddin
al-Hanafi, ketiga redaksi tersebut tidak mengandung pertentangan makna, karena
yang dimaksud dibukanya pintu-pintu langit sama dengan terbukanya pintu-pintu
surga karena pintu langit bagian atasnya menuju ke pintu surga karena surga
adanya di atas langit, dan pintu-pintu surga hanya terbuka karena rahmatnya
Allah swt. [3]
Hampir serupa
dengan pendapat di atas adalah pendapat Ibnu Bathal, dia megatakan redaksi hadits yang
menyatakan bahwa dibukanya pintu-pintu langit dan pintu-pintu surga, merupakan alasan
dasar bagi pendapat yang mengatakan bahwa surga itu berada di angit. Lebih
lanjut dia mengatakan bahwa makna pintu surga di buka artinya bisa dalam arti
hakikat sebagaimana dzhahirnya hadits atau bisa bermakna majaz. Jika yang
dimaksud adalah makna majaz maka artinya adalah bahwa jalan menuju surga di
bulan ramadlan lebih mudah dilakukan amalan-amalan yang dilakukan pada bulan
ramadlan seperti shalat, puasa dan tilawah qur'an menjadi lebih mudah dan cepat
diterima oleh Allah swt.[4]
Apa yang
disampaikan Ibnu Bathal di atas menunjukkan bahwa bulan ramadlan adalah bulan yang sangat
berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan ramadhan umat islam lebih mudah
melakukan amal baik. Menghidupkan masjid dengan qiyamul lail dan I'tikaf,
tadarrus atau tilawah al-Qur'an, santunan yatim dan dhu'afa, shadaqah jariyah,
saling berbagi makanan dan hadiah dan bentuk-bentuk amal shaleh lainnya, adalah merupakan fenomena umum yang cukup
marak, melebihi bulan-bulan lainnya dan bisa dirasakan oleh setiap orang yang
beriman. Kalau demian kenyataannya, bukankah amal shaleh itu menyebabkan
turunnya rahmat (kasih sayang ) Allah swt? dan bukankah rahmat Allah itu
menjadi penyebab terbukanya pintu surga.
Pendapat Ulama
sebagaimana dikutip Ibnu Bathal di atas bahwa surga itu adanya di langit,
agaknya dapat dipahami dari sejarah perjalanan Rasulullah saw ketika mi'raj
yakni naik ke langit. Dalam perjalanan itu Rasulullah sampai di suatu tempat
yang namanya sidratul muntaha.. Firman Allah swt:
yZÏã ÍouôÅ 4ygtFZçRùQ$# ÇÊÍÈ $ydyYÏã èp¨Zy_ #urù'pRùQ$# ÇÊÎÈ
" (yaitu) di Sidratil Muntaha, Di dekatnya ada syurga tempat tinggal", (QS.
Al-Najm [53]: 14-15)
Menurut Ibnu Katsir Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling
tinggi, berada di atas langit ke-7 yang telah dikunjungi Rasulullah saw. ketika
Mi'raj.[5]
Jika Sidrah al-muntaha itu berada di atas langit ke tujuh dan di sisinya ada
surga, maka dapat dipahami bahwa surga itu berada di atas langit ke tujuh. Sehingga kedua redaksi hadits yang secara
zahir Nampak berbeda sesungguhnya dalam makna tau pemahamanya tidaklah berbeda
dan tidak pula sulit. Caranya yaitu dengan mengkompromikan keduanya. Dalam ilmu
hadits cara seperti itu dikenal istilah al-jam'u wa al-taufiq baina
al-haditsaini al-mukhtalifain
(kompromi antara dua hadits yang secara redaksional nampak bertentangan)
Sabda Rasulullah
saw (lanjutan Hadits): وَغُلِّقَتْ
أَبْوَابُ جَهَنَّمَ ditutup pintu-pintu neraka jahannam .
Lagi-lagi Ibnu
bathal mengatakan bahwa makna inipun bisa hakiki dan bisa majazi. Makna hakiki
adalah makna yang ditunjukkan oleh zhahir hadits. Adapun makna Majazi adalah
bahwa tertutupnya neraka adalah karena terputusnya makshiyat.[6]
Meninggalkan amal yang wajib dilakukan menyebabkan seseorang masuk ke dalam neraka, sementara itu semangat
mayoritas umat islam (paling tidak selama ramadlan) untuk menjaga perintah
Allah yang wajib bahkan yang sunnat serta meninggalkan maksiat sungguh demikian
kuat. Dengan demikian neraka jahannam
demikian menjadi tertutup selama ramadlan. Tentu saja perlu dipertegas di
sini bahwa hal ini berlaku bagi orang
yang beriman. Dalam banyak Hadits
dikatakan, diantaranya:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ
إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ». رواه مسلم[7]
Dari Abi Salamah
dari Abi Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda. " barang
siapa yang berpuasa pada bulan ramadlan karena iman dan dan karena ihtisab,
maka diampuni baginya akan dosa-dosa sudah lalu dan barang siapa yang
menegakkan malam qadar karena iman dan k arena ihtisab maka diampuni baginya
dosa-dosa yang sudah lalu". (HR. dan Bukhari Muslim)
Hadits di atas
menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan oleh orang yang beriman dengan tulus
ikhlas menyebabkan dosanya yang sudah lalu diampuni olehAllah swt. Dosa yang
diampuni menyebabkan surga terbuka dan pintu neraka tertutup. Apalagi jika
ditambah dengan amal-amal shaleh lainnya.
Sabda Rasulullah saw. (lanjutan Hadits) : وَسُلْسِلَتِ
الشَّيَاطيِنُ (dan dirantailah
para syaithan).
Menurut Badruddin
al-Hanafi, dalam riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari thariq
(jalur) Abi Shalih dari Abu Hurairah dengan redaksi إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين مردة الجن (apabila telah ada awal malam ramadlan
maka dibelenggu para syaithan dan jin) adapun Riwayat tirmidzi dari jalur Abi
Qilabah dari Abu Hurairah dengan redaksi وتغل فيه مردة الشياطين atau dengan
redaksi تصفيد الشياطين (dibelenggu syaithan).[8]
Yang
dimaksud dengan syaitan-syaithan dibelenggu, dalam pandangan Ibnu Bathal
maksudnya adalah bahwa Allah swt. memelihara orang-orang yang beriman dari
melakukan ma'siyat selama bulan ramadlan. Umat Islam yang beriman tidak mudah
dibisiki dan dipropokasi oleh syaithan karena mereka sedang melakukan puasa dan
meninggalkan ma'syiat serta selalu menjaga kehormatan dirinya.[9] Dengan demikian maka syaithan laksana
terbelenggu dan tidak bebas melakukan propokasi terhadap umat islam yang
beriman mengingat mereka sedang sibuk dengan berbagai ibadah dan ketaatan
kepada Allah swt.
Sementara
itu Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyatakan bahwa yang dimaksud dengan
syaithan-syaithan dibelenggu atau dirantai selama bulan ramadlan dengan
mengutip pendapat al-Hulaimi adalah bahwa syaithan sejak turunnya al-Qur'an
terbelenggu tangannya tidak bisa lagi mencuri berita-berita rahasia dari
langit. Atau dapat juga diartikan bahwa syaithan tidak bisa leluasa menggoda
dan mempropokasi umat islam yang beriman karena umat islam sedang sibuk dengan puasa, berdzikir, baca
al-Qur'an dan ibadah-badah lainnya serta menjauhkan dari dari perbuatan
ma'shiyat.[10]
Pemaknaan
secara majazi (kiyasan) yang dilakukan oleh para ulama seperti disebutkan di
atas nampaknya lebih mudah dipahami. Umat yang beriman pasti akan merasa senang
dengan kehadiran bulan ramadlan, mengingat bulan ramadlan adalah bulan yang
diistimewakan Allah swt. bulan diturunkannya al-Qur'an, bulan turunnya lailatul
qadar dan bulan dilimpahkannya barakah dan ampunan dari Allah swt. Oleh
karenanya umat yang beriman akan berlomba-lomba untuk melakukan ibadah dan amal
shaleh baik kualitas maupun kuantitasnya. Umat yang berimanpun lebih mawas diri
dan lebih hati-hati untuk tidak mudah terpropokasi syaithan. Sikap umat yang beriman seperti ini
menyebabkan pahala amal baiknya berlipat, maghfirah (ampunan) diberikan dan
barakahpun melimpah maksiatpun berkurang akhirnya tertutuplah neraka jahannam,
terbuka surga dan terbelenggu syaithan.
Biografi Singkat
Shahabat Perwi Hadits.
.
B. Bau Mulut
Orang Yang Berpuasa Lebih Harum Daripada Minyak Wangi.
1.
Matan Hadits.
عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه،
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ
آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ
جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ،
فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائمٌ،
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائمِ أَطْيَبُ عِنْدَ
اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ
فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ- أخرجه
البخاري في: 69 كتاب النفقات: 14 باب هل يقول إني صائم إذا شتم
2. Mufradat Kalimat.
:
فلا يرفث yang dimasud adalah perkataan yang kotor dan bernada porno
ولا
يجهل : jangan
melakukan sesuatu dari perbuatan jahiliyah
: لخلوف فم الصائمBaunya mulut orang yang berpuasa, maksudnya adalah
perubahan bau mulut
orang puasa lamanya tidak makan dan minum
جنة : Penghalang dari
perkataan buruk dan
dosa juga menjadi tameng atau
penghalang dari api neraka.
3.
Terjemah Hadits
Dari
Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. telah bersabda: “Allah swt
berfirman,” Semua amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa,
kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku memberikan balasan
kepadanya”. Puasa itu adalah perisai. Apabila seseorang sedang puasa maka
janganlah bersetubuh dan jangan pula bertengkar, apabila seseorang memakinya
atau diajak berkelahi maka hendaklah ia berkata,”aku sedang puasa”. Demi Allah
yang jiwa Muhammad di dalam genggamannya, sesungguhnya bau mulutnya orang yang
sedang berpuasa (pada hari kiamat) lebih harum dari pada wangi kasturi. Bagi
orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan, yaitu gembira ketika berbukan
dan gembira ketika bertemu Tuhannya. (HR.
Bukhari).
4.
Penjelasan Singkat Hadits,
Sabda Rasulullah saw. كُلُّ
عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي Semua amal anak Adam
adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa,
sesungguhnya puasa itu untuk-Ku
Maksudnya adalah sebagaimana
dikemukakan oleh Abu al-Faraf Abdurrahban ibn al-Jauzi:[11] perkataan
tersebut bermakna bahwa Allah swt. sangat memuliakan ibadah puasa melebihi pemulyaan-Nya
kepada ibadah yang lainnya. Yang kedua maksudnya bahwa ibadah puasa adalah
ibadah yang paling dicintai Allah swt. yang ke tiga bahwa puasa adalah ibadah
yang pahalanya dilipat gandakan oleh Allah swt. karena ibadah-ibadah tertentu
seringkali kadar pahalanya disebutkan tetapi untuk puasa Allah tidak
menyebutkan kadarnya berapa, tetapi Allah swt akan senantiasa terus melipat
gandaka pahalanya sampai batas yang tak terhingga sesuai dengan tingkat kadar keikhlasan
masing masing yang tidak diketahui kadarnya selain Allah swt. Yang ke empat, bahwa semua ibadah selain puasa sifatnya
zhahir (nampak) sehingga kelihatan sementara puasa adalah ibadah yang tersembunyi
oleh karenanya hakikatnya tidak tampak, tersembunyi hanya Allah saja yang tahu.
Dan yang ke lima, adalah bahwa puasa itu adalah bentuk ibadah yang hajat kepada
makan dan minum sebagaimana Allah swt.
tidak memerlukan kepada makan dan minum maka seakan akan orang yang bepuasa itu
mengabdikan diri kepada Allah swt. dengan menyerupakan diri dengan sifat-sifat
Allah yang tidak butuh kepada makan dan minum.
Ibnu Hajar, dengan mengutp
pendapat al-Mazari berpendapat bahwa makna puasa untuk Allah adalah karena pada ibadah puasa
tidak dikenai penyakit riya sebagaimana ibadah-ibadah lainnya dan semua ibadah
tidak terjadi kecuali dengan gerakan badan kecuali puasa, puasa tidak perlu
kepada gerakan badan karena dia
berkaitan dengan niat yang ada di dalam hati. Pendapat ini pula – masih menurut
Ibnu Hajar- yang dipegang oleh al-Qurthubi, lebih lanjut dia mengatakan bahwa
tidak ada yang mengetahui mengenai kemurnia ibadah puasa kecuali hanya Allah
swt. oleh karena itu maka ibadah puasa disandarkan kepada Alllah dengan kata فإنه لي وأنا أجزي به [12]
Imam al-Nawawi menyatakan
bahwa para ulma telah beriktilaf tentang makna kalimat di atas karena pada
hakkatnya semua amal itu adalah Lillahi
termasuk didalamnya ibadah puasa. Adapun hanya ibadah puasa yang
disandarkan kepada Allah swt. (seperti redaksi hadits di atas) adalah karena
tidak ada pengingkaran yang lebih besar terhadap suatu ibadah kecuali
pengingkaran kepada puasa lagi pula ibadah puasa itu jauh dari sifat riya.[13]
Dari beberapa penjelasan di
atas dapat kita pahami mengapa hanya ibadah puasa yang disandarkan kepada Allah
swt. berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya sebagaimana diketahui dari redaksi
hadits tersebut.
Ibadah puasa jka dilihat dari
bentuknya memang berbeda dengan ibadah-ibah lainnya. Kalau ibadah lain bersifat
demonstrative karena memerlukan gerakan badan maka ibadah puasa tidak kelihatan
sama sekali karena berkaitan dengan niata yang ada dlam hati, dan perkara yang
berkaitan dengan hati tidak dapat diketahui kecuali hanya Allah swt. Maka sangat wajar kalau Allah
menyatakan bahwa bahwa pauasa iu hanya untuknya.
Sabda Rasulullah saw.
(lanjutan Hadits). وأنا أجزي به dan Aku memberikan balasan
kepadanya
Dalam pandangan Ibnu
'Alan bahwa maksudnya adalah bahwa
tingkatan dan banyaknya pahla puasa tidak ada yang tahu kadarnya kecuali Allah
swt. karena puasa adalah seutama-utama
tingkat ke sabaran, hal ini sebagaimana firman
Allah swt:
$yJ¯RÎ) ®ûuqã tbrçÉ9»¢Á9$# Nèdtô_r& ÎötóÎ/ 5>$|¡Ïm ÇÊÉÈ
Sesungguhnya
Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Al-Zumar :
10)
Selanjutnya dia mengatakan
bahwa segala amal bisa jadi berkurang atau habis pahalanya di hari akhirat
karena digunakan untuk menutupi segala kezhaliman yang pernah dia lakukan ketika di dunia kecuali pahala puasa karena
puasa itu milik Allah swt dan Allah yang akan membalasnya.[14]
Senada dengan pendapat di
atas, Ibnu Hajar berpandapat bahwa yang dimaksud dengan dan Aku memberikan
balasan kepadanya adalah hanya Allah swt. sendiri yang tahu kadar
pahala dan berlipat-lipatnya kebaikan. Selanjutnya dengan mengutip pendapat
al-Qurthubi, Ibnu hajar mengatakan bahwa amal itu dibuka atau diterangkan oleh
Allah swt kadar pahalanya dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat kecuali
puasa pahlanya dilipat gandakan sampai tak terbatas.[15]
Ibadah puasa di bulan
ramadlan memang sangat istimewa. Keistimewaan tersebut adalah dengan pemberian
nama oleh Allah swt terhadap salah satu pintu di surga dengan al-Rayyan. Pintu
sorga dengan nama al-Rayyan tersebut diciptakan oleh Allah swt sebagai pintu
masuk ke surga khusus bagi mereka yang berpuasa. Dalam hal ini Rasulullah saw, bersabda :
عَنْ سَهْلٍ رضي الله عنه، عَنِ
النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ:
الرَّيَّانُ، يدْخلُ مِنْهُ الصَّائمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ
مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائمُونَ، فَيَقُومُونَ، لاَ
يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ
مِنْهُ أَحَدٌ أخرجه البخاري في: 30
كتاب الصوم: 4 باب الريان للصائمين
Dari Sahl ra. dari Nabi saw. Beliau telah bersabda:”
Sesunggguhnya surga itu memiliki pintu yang dinamai al-Rayyan, Akan masuk ke
dalamnya pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa tidak ada satu orangpun
yang bisa masuk selain mereka, apabila mereka telah masuk maka ditutuplah pintu
itu dan tidak akan ada yang masuk seorangpun ke dalamnya”. (HR. Bukhari).
5.
Biografi Singkat Shahabat Perwi Hadits.
Biografi
Abu Hurairah sudak dipaparkan pada bab sebelumnya.
B. Larangan Puasa Satu Sahun Penuh.
1. Matan Hadits
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو، قَالَ:
أُخْبِرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي أَقُولُ، وَاللهِ لأَصُومَنَّ
النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ؛ فَقُلْتُ لَهُ: قَدْ قُلْتُهُ،
بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي قَالَ: فَإِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيع ذلِكَ، فَصُمْ
وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ
الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَذلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ قُلْتُ:
إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ قَالَ: فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ
قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ قَالَ: فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ
يَوْمًا، فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَهُوَ أَفْضَلُ
الصِّيَامُ فَقُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى
الله عليه وسلم: لاَ أَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ أخرجه البخاري في: 30 كتاب الصوم: 56 باب
صوم الدهر
2. Mufradat
al-Kalimat
أُخْبِرَ
رَسُولُ
= diceritakan
kepada Rasulullah
وَاللهِ = Demi Allah (kalimat sumpah)
لأَصُومَنَّ
النَّهَارَ وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ = Sungguh aku akan berpuasa sepanjang (setiap) hari dan akan berdiri
(shalat malam) sepanjang malam
مَا
عِشْتُ = selama hidupku
صِيَامِ
الدَّهْرِ
= puasa sepanjang
masa
إِنِّي
أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ = saya sanggup lebih dari itu
فَصُمْ
يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا = puasalah
shari dan berbukalah sehari
3. Terjemah Hadits
Dari Abdullah
bin Amr ra, diceritakan kepada Rasulullah bahwa aku pernah bersumpah, “ Demi
Allah Sungguh aku akan berpuasa sepanjang hari dan akan berdiri (shalat malam)
sepanjang malam selama hidupku”, saya berkata kepada belaiu, “ benar aku telah
berkata demikian, saya tebus engkau dengan ibu bapakku”. Beliau bersabda,
“sesunguhnya engkau tidak akan sanggup melakukannya, puasalah dan berbukalah,
bangun dan tidurlah, puasalah dalam sebulan tiga hari, seaungguhnya setiap
kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat yang demikian itu seperti puasa
sepanjang masa”. Saya berkata, “saya sanggup lebih dari itu”. Beliau bersabda:”
puasalah shari dan berbukalah dua
hari", saya berkata sesungguhnya saya sanggup lebih dari itu", Beliau
bersabda, "puasalah sehari dan berbukalah sehari, yang demikian itu adalah
puasanya Nabi Dawud as. dan itulah yang utama”. Saya berkata,” sesungguhnya
saya sanggup lebih dari itu”. Beliau bersabda, “tidak ada yang lebih dari itu”. (HR. Bukhari).
4.
Hadits Yang Semakna
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو بْنِ
الْعَاصِ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يَا عَبْدَ اللهِ
أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ فَقُلْتُ: بَلَى
يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: فَلاَ تَفْعَلْ، صُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ،
فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ
لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ
بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ
حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا، فَإِنَّ ذلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
فَشَدَّدْتُ فَشُدِّدَ عَلَيَّ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً
قَالَ: فَصُمْ صِيَامَ نَبِيِّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَلاَ تَزِدْ
عَلَيْهِ قُلْتُ: وَمَا كَانَ صِيَامُ نَبِيِّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ
قَالَ: نِصْفُ الدَّهْرِ فَكَانَ عَبْدُ اللهِ
يَقُولُ بَعْدَمَا كَبِرَ: يَا لَيْتَنِي قَبِلْتُ رُخْصَةَ النَّبِيِّ صلى الله
عليه وسلم أخرجه البخاري في: 30 كتاب الصوم: 55 باب حق الجسم في الصوم
Dari Abdullah bin
Amr bin ‘Ash ra. berkata, telah bersabda Rasulullah saw kepadaku, “tidakkah aku
dikabarkan bahwasannya kamu berpuasa sepanjang hari dan berdiri (beribadah)
sepanjang malam?”, betul ya Rasulallah. Beliau bersabda,” jangan kau lakukan
itu, berpuasalah dan berbukalah, karena sesungguhnya pada jasadmu ada hak, bagi
keedua matamu atas kamu ada hak, bagi istrimu atas kamu ada hak, dan bagi……
atas kamu ada hak, cukup bagimu berpuasa taga hari setiap bulan, karena
sesungguhnya setiap kebaikan bagimu sepuluh kali lipat, maka itulah puasa
sepanjang jaman…… ”. Saya berkata, “wahai Rasulallah saya kuat”, Beliau
menjawab, “berpuasalah kamu seperti puasanya Nabiyullah Dawud as. Dan gak usah
kamu tambahi lagi,,,,,
5.
Syarah (Penjelasan ) Singkat
Kalimat
dalam Hadits. : أُخْبِرَ رَسُولُ
اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي أَقُولُ، وَاللهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ
وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ = diceritakan kepada Rasulullah
bahwa aku pernah bersumpah, “ Demi Allah Sungguh aku akan berpuasa sepanjang
hari dan akan berdiri (shalat malam) sepanjang malam selama hidupku
Adalah
pernyatan Abdullah bin Amr bin 'Ash yang berkata kepada Rasulullah saw. saat
diminta konfirmasi oleh Rasulullah mengenai pernyataannya bahwa dia berencana
akan berpuasa setiap hari tanpa berhenti seharipun dan akan beribadah sepanjang
malam tanpa tidur sedikitpun sepanjang hidupnya.
Keinginan
tersebut nampaknya diandasi oleh hasrat untuk menyamai keutamaan ibadah
Rasulullah saw dan kemuliaanya. Dimaklumi bahwa Rasulullah adalah maksum
sehingga dosa-dosanya terampuni dan surgapun sudah menanti. Para sahabat merasa
bahwa ibadahnya sangat jauh dari
ibadahnya Rasulullah. Oleh karena itu sebagian mereka berkeinginan untuk
beribadah secara ekstrim dengan puasa setiap hari tanpa berhenti dan ibadah sepanjang malam tanpa tidur. Diriwayatkan
oleh Anas bin Malik ra, bahwasanya ia berkata :
جَاءَ
ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا
فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا
تَأَخَّرَ قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا
وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ وَقَالَ آخَرُ
أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا فَجَاءَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ أَنْتُمْ
الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ
لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي
وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ
مِنِّي
Ada tiga
orang mendatangi rumah isteri-isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan
bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan setelah
diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi
mereka. Mereka berkata, "Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?" Salah seorang dari
mereka berkata, "Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya."
Kemudian yang lain berkata, "Kalau aku, maka sungguh, aku akan berpuasa
Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka." Dan yang lain lagi
berkata, "Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah
selama-lamanya." Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam kepada mereka seraya bertanya: "Kalian berkata begini dan begitu.
Ada pun ak u, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara
kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan
juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka
bukanlah dari golonganku." ( HR Bukhari, no : 4675 )
Pernyataan
Abdullah bin 'Amr bin 'Ash dalam hadits tersebut : فَقُلْتُ
لَهُ: قَدْ قُلْتُهُ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي
: saya berkata kepada belaiu, “ benar aku telah
berkata demikian
saya tebus engkau dengan ibu bapakku.
Adalah
jawaban terhadap pertanyaan Rasulullah saw dalam bentuk konfirmasi (tabayyun)
terhadap peryataan Abdullah bin 'Amr bin 'Ash. Ini adalah bimbingan yang amat
berharga dari Rasululah saw. bahwa jika mendaptkan suatu kabar terlebih dahulu
harus dilakukan chek dan rechek langsung kepada sumber beritanya agar segala sesuatunya menjadi jelas.
Perkataan saya tebus engkau dengan ibu bapaku adalah kebiasaan
dalam mengungkapkan sesuatu secara sunguh sungguh agar lawan bicara menaruh
perhatian yang sunggyh sungguh pula dalm hal ini dari Rasulullah saw.
Sabda Rasulullah saw. (lanjutan Hadits):
فَإِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيع ذلِكَ، فَصُمْ
وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ
الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَذلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ (“sesunguhnya
engkau tidak akan sanggup melakukannya, puasalah dan berbukalah, bangun dan
tidurlah, puasalah dalam sebulan tiga hari, seaungguhnya setiap kebaikan akan
dibalas sepuluh kali lipat yang demikian itu seperti puasa sepanjang masa”)
Nabi menegaskan bahwa puasa sepanjang tahun penuh dan qiyamul lail
sepanjang malam penuh jika dilakukan terus menerus tentusaj tidak akan mampu
dilakukan sepanjang masa selam seseorang itu hidup. Oleh karena itu Rasulullah saw. mengajurkan untuk menggantinya
dengan cukup berpuasa sebanyak tiga hari
saja. Karena berpuasa satu hari itu seumpama dengan puasa selama 30 hari,
mengingat dalam hal melakukan kebaikkan oleh Allah akan dilipat gandakan
menjadi sepuluh kali lipat. Dengan demikian 3 hari seumpama dengan 30 hari dan
itu berarti sama dengan satu bulan.
`tB
uä!%y`
ÏpuZ|¡ptø:$$Î/
¼ã&s#sù
çô³tã
$ygÏ9$sWøBr&
(
`tBur
uä!%y`
Ïpy¥Íh¡¡9$$Î/
xsù
#tøgä
wÎ)
$ygn=÷WÏB
öNèdur
w
tbqßJn=ôàã
ÇÊÏÉÈ
Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh
kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka dia tidak
diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka
sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-An'am [06]:
160)
Jika berpuasa selama tiga hari setiap bulan itu
dilakukan setiap bulan secara konsisten maka sama dengan puasa selama satu
tahun penuh. Itulah yang dimaksud dengan penyataan Rasulullah saw. وَذلِكَ
مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ ("yang demikian itu seperti puasa
sepanjang masa”)
Jawaban Abdullah bi 'Amr (lanjutan Hadits) قُلْتُ:
إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ قَالَ: فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ : ("saya berkata, " saya lebih mampu dari
itu", " Beliau
bersabda:” puasalah shari dan berbukalah dua hari"),
Maksudnya menurut kesanggupan Abdullah bin 'Amr ra. bahwa dirinya
masih sanggup atau merasa lebih kuat dari hanya sekedar puasa tiga hari saja
dalam setiap bulan, namun Rasulullah saw. memerintahkannya dengan puasa satu
hari dan berbuka dua hari.
Ternyata Rasulullah saw. menaikkan perintahnya dari memerintahkan
untuk berpuasa selama tiga hari saja dalam satu bulan menjadi puasa satu hari
dan berbuka satu hari. Dengan demikian maka jumlah puasa yang diperintahkan
Rasulullah sekitar sepuluh hari dalam satu bulan. Nampaknya apa yang dilakukan
oleh Rasululla saw. itu dengan mempertimbangkan kuatnya keinginan sahabat yang
satu itu ini untuk memperbanyak ibadah kepada Allah swt.
Setelah diperintahkan demikian oleh Rasulullah saw. sahabat ini
masih mengajukan keinginannya kepada Rasulullah saw. agar ditambahkan lagi
jumlah puasanya karena merasa lebih mampu dari apa yang ditawarkan kepadanya
dengan mengatakan: قُلْتُ: إِنِّي
أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ("saya berkata, " saya
lebih mampu dari itu").
Sabda Rasulullah saw. (lanjutan Hadits) : قَالَ:
فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا، فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ
السَّلاَمُ، وَهُوَ أَفْضَلُ الصِّيَامُ فَقُلْتُ:
إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: لاَ
أَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ
: ( " Beliau bersabda,
"puasalah sehari dan berbukalah sehari, yang demikian itu adalah puasanya Nabi Dawud
as. dan itulah yang utama”. Saya berkata,” sesungguhnya saya sanggup lebih dari
itu”. Beliau bersabda, “tidak ada yang lebih dari itu”)
Nabi menetapkan bahwa jika sehari berpuasa dan dan dua hari
berbuka merasa kurang cukup maka Rasulullah menetapkan agar puasa sehari dan
membatalkannya sehari. Cara puasa seperti itu adalah cara yang dilakukan oleh
Nabi Dawud as.
Sekalipun sahabat itu masih terus mendesak Rasulullah agar
puasanya terus ditambah sehingga dapat dilakukan setiap hari, tetapi dengan
tegas Rasulullah menetapkan cukup sehari puasa dan sehari berbuka sebagaimana
puasanya Nabi Dawud as. Dan itu adalah sebaik-baik puasa sunnah yang ditetapkan
oleh Syari'at Islam. Tidak ada puasa
sunnah yang lebih baik, lebih utama dari apa yang ditetapkan oleh Rasulullah
saw.
Diantara pelajaran yang dapat dipetik dari hadits tersebut adalah
bahwa dengan penuh sabar dan kasih sayang Rasulullah membimbing umatnya dalam
menjalankan ibadah kepada Allah swt. tidak denganamarah dan cepat berputus asa.
Namun demikian Rasululah tetap tegas dalam menetapkan syari'at sesuai dengan
petunjuk Allah swt.
Tentang Hadits di atas Ibnu Daqieq al-'Ied memberikan penjelasan bahwa
dalam Hadits tersebut terdapat enam masalah yaitu :
1.
Menurut Jumhur ulama bahwa
puasa dahr itu hukumnya dibolehkan, selama tidak berpuasa pada hari-hari yang
diharamkan yaitu dua hari raya ('idul fitri dan idul adha) dan tiga hari
tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 bulan dzul hijjah). DiantaraUlama yang
berpendapat seperti itu adalah Imam Malik dan Imam Syafi'i. Sementara itu
pendapat kalangan zhahiriyah melarangnya berdasarkan teks hadits tersebut.
2.
Sekelompok Ulama menilai
makruh melaksanakan shalat malam semalaman penuh. Ketetapan ini berpijak pada
alasan bahwa jika melaksanakan shalat (ibadah) semalaman penuh disertai dengan puasa di siang harinya. Hal
ini diduga akan mengakibatnya terhambatnya kewajiban-kewajiban lainnya.
3.
Pernyataan Rasulullah saw : فَإِنَّكَ
لاَ تَسْتَطِيع ذلِكَ
menunjukkan tidak adanya kemampuan dalam kaitannya dengan orang-orang yang
punya udzur dan kesulitan untuk melaksanakan kedua duanya (puasa sepanjang hari
dan ibadah sepanjang malam) seperti karena lanjut usia.
4.
Dianjurkannya puasa tiga hari pada setiap
bulan.
5.
Bahwa puasa tiga hari setiap
bulan itu sama denga puasa dahr yakni puasa selama satu tahupenuh. Hal ini
dengan pertimbangan bahwa amal itu dilipatgandakan sampai 10 kali lipat. Dengan
demikian puasa 3 hari seumpama denga uasa 30 hari setiap bulan. Jika dilakukan
secara kontinyu maka seumpama dengan puasa satu tahu penuh. Namun demikian
bukan dalam pengertian hakiki, karena nilai pahla suatu ibadah sesuai dengan
tingkat masyaqatnya (kesulitannya).
6.
Bahwa puasa seperti puasanya
nabi Dawud as. Lebih utama daripada puasa dahr atau puasa abadi.[16]
6.
Bioagrafi Sahabat Perawi
Hadits
[4]Abu
Hasan bin Ali bin Khalf bin Bathal al-Bakri al-Kurthuby, Syarh Shahih
al-Bukhari, (Riyadl: Maktabah al-Rusyd, 2003), cet ke 2,
[6]
Ibn Bathal al-Bakri al-Kurthuby, Syarh Shahih al-Bukhari, (Riyadl:
Maktabah al-Rusyd, 2003), cet ke 2,
[9]
Ibn Bathal al-Bakri al-Kurthuby, Syarh Shahih al-Bukhari, (Riyadl:
Maktabah al-Rusyd, 2003), cet ke 2,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar