BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk membentuk pribadi yang bermoral harus dibentengi dengan
keimanan dan sedini mungkin sesuai tingkat perkembangan kemampuan anak .
kepribadian dalam islam adalah ketakwaan, maka setiap proses pembentukan
kepribadian menuju kepada takwa kepada Allah SWT.
Takwa disini dimaksud meliputi keimanan kepada Allah, ibadah kepada
Allah dan berhubungan sesama manusia dan lingkungannya , termasuk kemasyaraktan
dan kenegaraan .
B . Rumusan Masalah
a.
ApaHubunganImanDenganIbadah ?
b.
Apasajamacam – macamibadah ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Hubungan Iman
dengan Ibadah
Iman adalah
membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan serta mengamalkan dengan
perbuatan. Yang dimaksud membenarkan dengan hati yaitu mempercayai dan meyakini
segala yg dibawa rasulullah. Yang dimaksud dengan mengikrarkan dengan lisan
adalah mengucap dua kalimah syahadat. Sedangkan maksud dari mengamalkan dengan
perbuatan yaitu hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan dan badan mengamalkan
dalam bentuk ibadah jika syarat – syarat diatas terpenuhi maka seorang dapat
dikatakan “Mukmin”.
Ibadah berasal
dari kata ‘abd secara bahasa berarti “hamba sahaya”, “anak
panah yang pendek dan lebar”, dan “tumbuhan yang memiliki aroma yang
harum”. Pengerttian tersebut mengisyaratkan bahwa ibadah mengandung
ciri-ciri kekokohan dan kelemahlembutan, maksudnya pelaksanaan ibadah harus
diiringi oleh kesetiaan yang kuat dan kehalusan. Secara bahasa ibadah
diartiakan seagai penyembahan,pengabdian, dan ketaatan.
Hubungan iman
dengan ibadah adalah sejauh mana keimanan dapat mempengaruhi ibadah dan etika
atau moral dan sebaliknya. Keimanan atau akidah adalah fondasi dari semua
ajaran Islam, yaitu akidah, syariah dan akhlak.
Seseorang yang
telah beriman atau barakidah harus mengimplentasikan keimanannya dengan syariah
yaitu beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan sesama manusia dan alam
sekitar.
Akidah
diwujudkan dalam pengucapan dua kalomat syahadat, diimani, diyakii dan
dibenarkan dalam hatinya. Sebagai wujud keimannnya kepada Allah, dia harus
melaksanakan syariah berupa ibadah atau ibadah madhah dan ibadah muamalah
ghairu madhah. Yang mana ibadah madhah artinya penghambaan yang murni
hanya merupakan hubung an antara hamba dengan Allah secara langsung. Sedangakan
ibadah muamalah ghairu madhah artinya segala amalan yang diizinkan oleh
Allah, misalnya ibadaha ghairu mahdhah ialah belajar, dzikir, dakwah, tolong
menolong dan lain sebagainya.
Orang yang
beriman disebut mukmin. Sedangkan seorang mukmin yang teah melakukan ibadah dan
muamalah disebut muslim. Seseorang mukmin belum dapat disebut muslim apabila
dia belum melaksanakan ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ibadah gairu madhah.
Keimanan dan keislaman seseorang harus dilengkapi dengan ibadah dalam rukun
Islam yaitu syahadat, shalat, zakat,
puasa dan haji.
Keimanan kepada
Allah menyebabkan keiman kepada malaikat, Allah, kitab-kitab Allah, Rasul-rasul
Allah, hari kiamat dan qadha dan qadar Allah. Iman yang baik dan benar harus
diwujudkan dalam amaliyah yang sesuai hukum-hukum Allah, antara lain
melaksanakan rukun Islam yang lima tadi. Maka keimanan
seseorang sangat erat kaitannya dengan ibadah. Bahkan tujuan akhir dari ibadah
adalah beriman kepada Allah SWT, dan kepada rukun iman yang enam di atas.
Syahadat
diucapkan dengan lisan, dibenarkan dengan hati, dan dibuktikan dengan amaliyah
berupa ibadah. Keeratan hubungan iman dengan ibadah dinyatakan Allah dengan
menyebutkan iman(aamanu) selalu diiringi dengan amal shaleh (aamilush
shaliahat).
Iman dengan
ibadah juga memiliki hubungan kausalitas (sebab akibat). Kualitas iman
seseorang ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ibadah orang tersebut. Makin tinggi
kualitas ibadah seseoarang (misal shalat makin khusu’, mengurangi atau
menghilangkan syirik kepada Allah). Dan kuantitasnya ( misal menambah shalat
wajib dengan shalat sunnah, banyak bershadaqah) akan menambah dan mempertebal
iman seseorang, makin mngurangi dan mempertipis, bahkan dapat menghilangkan
kualitas iman seseorang kepada Allah SWT.
Pelaksanaan
ibadah yang dilandasi iman yang kuat memberikan dampak positif terhadap sikap
dan perilaku seorang muslim.
Allah berfirman :
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu,
yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat
yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabut
45)
Shalat itu mengandung dua hikmah, yaitu dapat
menjadi pencegah diri dari perbuatan keji dan perbuatan munkar. Maksudnya dapat
menjadi pengekang diri dari kebiasaan melakukan kedua perbuatan tersebut dan
mendorong pelakunya dapat menghindarinya.
Denagn keimanan seeorang akan tunduk dan patuh
kepada aturan-aturan Allah. Dengan demikian sesungguhnyalah sangat erat
hubungan dan saling mempengaruhi antara iman dengan ibadah kepada Allah SWT.
. Berikut hadis
yang menjelaskannya :
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu,
ia berkata:
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan
fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang
Nasrani maupun seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan
seekor anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan terdapat yang terpotong
hidungnya?.”
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu,
ia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak itu
dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi
seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki
bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum
itu?” Beliau menjawab: “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka
kerjakan.”
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang
anak orang-orang musyrik, lalu beliau menjawab: Allah lebih tahu tentang apa
yang pernah mereka kerjakan.
Untuk membentuk
pribadi yang bermoral harus dibentengi dengan keimanan dan ketakwaan kepada
Allah, yang dimulai dari lingkungan keluarga dan dilakukan sedini mungkin
sesuai tingkat perkembangan kemampuan anak. Kepribadian dalam Islam adalah
ketakwaan, maka setiap proses pembentukan kepribadian menuju kepada takwa
kepada Allah SWT. Takwa disini dimaksud meliputi keimanan kepada Allah, ibadah
kepada Allah dan berhubungan sesama manusia dan lingkungannya, termasuk
kemasyarakatan dan kenegaraan. Pembentukan kepribadian dimulai dengan penanaman
ketauhidan kepada anak, sebab :
1. Tauhid
memberikan ketentraman batin dan menyelamatkan manusia dari kesesatan dan
kemusyrikan.
2. Tauhid
membentuk sikap dan perilaku keseharian seseorang.
3. Tauhid sebagai
aqidah dan falsafah hidup.
4. Tauhid sebagai
ilmu yang merupakan hasil pengkajian para ulama terhadap apa yang tersurat dan
tersirat di dalam al qur’an dan hadits.
5. Tauhid sebagai
sebagian sumber dan motivator perbuatan kebajikan dan keutamaan.
6. Tauhid
membimbing manusia ke jalan yang benar, sekaligus mendorong mereka untuk
mengerjakan ibadat dengan penuh keikhlasan.
7. Tauhid
mengeluarkan jiwa manusia dari kegelapan, kekacauan, dan kegoncangan hidup yang
dapat menyesatkan.
8. Tauhid
mengantarkan umat manusia kepada kesempurnaan lahir dan batin.
Oleh sebab itu
upaya membentuk kepribadian manusia dengan memantapkan, menguatkan dan
mengokohkan akidah dalam diri manusia. Denagn akidah yang kuat, pikiran manusia
menjadi tenang, emosinya stabil dan jiwanya tenteram, sehingga kepribadiannya
juga mantap.
Dengan akidah
yang kuat mentalnya juga kuat dan tangguh, tidak tergoda oleh perhatian, cinta
kasih dan kepedulian orang lain yang menjauhi akidah seseoarang. Baginya yang
penting adalah perhatian, kasih sayang dan kepedulian dari Allah SWT, yang
diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan positif.
B. Macam – Macam Ibadah
Praktekibadahsangatlahberagam,
tergantungdarisudutmanakitameninjaunya.
1. Dilihatdarisegiumumdankhusus,
makaibadahdibagiduamacam:
a) IbadahKhoshohadalahibadah
yang ketentuannyatelahditetapkandalamnash (dalil/dasarhukum) yang jelas,
yaitusholat, zakat, puasa, dan haji;
b)
IbadahAmmahadalahsemuaperilakubaik yang dilakukansemata-matakarena Allah SWT
sepertibekerja, makan, minum,
dantidursebabsemuaituuntukmenjagakelangsunganhidupdankesehatanjasmanisupayadapatmengabdikepada-Nya.
2.
Ditinjaudarikepentinganperseoranganataumasyarakat, ibadahadaduamacam:
a) ibadahwajib (fardhu)
sepertisholatdanpuasa;
b) ibadahijtima’i, seperti
zakat dan haji.
3. Dilihatdaricarapelaksanaannya, ibadahdibagimenjaditiga:
a) ibadahjasmaniyahdanruhiyah (sholatdanpuasa)
b) ibadahruhiyahdanamaliyah
(zakat)
c) ibadahjasmaniyah, ruhiyah, danamaliyah (pergi haji)
4. Ditinjaudarisegibentukdansifatnya, ibadahdibagimenjadi:
a) ibadah
yang berupapekerjaantertentudenganperkataandanperbuatan, sepertisholat, zakat,
puasa, dan haji;
b) ibadah
yang berupaucapan, sepertimembaca Al-Qur’an, berdoa, danberdzikir;
c) ibadah
yang berupaperbuatan yang tidakditentukanbentuknya, sepertimembeladiri,
menolong orang lain, mengurusjenazah, dan jihad;
d) ibadah
yang berupamenahandiri, sepertiihrom, berpuasa, dani’tikaf (duduk di masjid);
dan
e) ibadah
yang sifatnyamenggugurkanhak, sepertimembebaskanutang, ataumembebaskanutang
orang lain.
1. Wajib
Yang dimaksud
dengan wajib dalam pengertian hukum islam adalah ketentuan syar’I yang menuntut
para mukallaf untuk melakukanya dengan tuntutan yang mengikat serta diberi
imbalan pahala bagi yang melakukanya dan ancaman dosa bagi yang meninggalkanya
2. Sunnah
Yang dimaksud
dengan sunnah adalah ketentuan Syar’I tentang berbagai amaliah yang harus
dikerjakan mukallaf dengan tuntutan yang tidak mengikat. Dan pelakunya diberi
imbalan pahala tanpa ancaman dosa bagi yang meninggalkanya.
3. Haram
Yang dimaksud
dengan haram adalah tuntutan syar’i kepada mukallaf untuk meninggalkanya dengan
tuntutan yang mengikat., beserta imbalan pahala bagi yang menaatinya dan balasan
dosa bagi yang melanggarnya.
Secara garis
besar, ibadah itu dibagi dua yaitu : ibadah pokok yang dalam kajian ushul fiqh
dimasukkan dalam hukum wajib, baik wajib ‘ain atau wajib kifayah. Termasuk
kedalam kelompok ibadah pokok itu adalah apa yang menjadi rukun islam dalam
arti akan dinyatakan keluar dari islam bila sengaja meninggalkannya yaitu:
1. Ibadah Sholat
Secara lughawi
sholat mengandung beberapa arti yaitu berarti do’a, memberi berkah. Secara
terminologi yaitu serangkaian dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir
dan disudahi dengan salam. Hukum melaksanakan sholat adalah wajib ‘ain dalam
arti kewajiban ditujukan kepada setiap orang yang telah dikenai beban hukum
(mukallaf) dan tidak lepas kewajiban seseorang dalam sholat kecuali bila telah
dilakukannya sendiri sesuai dengan ketentuannya.
2. Ibadah
Zakat
Dalam bahasa
arab zakat berarti kebersihan, perkembangan dan berkah. Menurut istilah berarti
menyerahkan harta secara putus yang telah ditentukan syari’at kepada
orang-orang yang berhak menerimanya. Hukum zakat adalah bersifat wajib. Yang
telah disebutkan dalm QS.Al-Muzzammil:20.
Hikmah
mengeluarkan zakat bagi harta yang dikeluarkan zakatnya bisa menjadikannya
bersih, berkembang dengan berkah, terjaga dari berbagai bencana, dan dilindungi
oleh Alla dari kerusakan, keterlantaran dan kesia-siaan.
3. Ibadah Puasa
Puasa menurut
pengertian bahasa ialah menahan diri dan menjauhi diri dari segala sesuatu yang
bisa membatalkan, secara mutlak. Menurut pengertian syari’at puasa ialah
menahan diri dari sesuatu yang dianggap dapat membatalkan, sejak terbit fajar
hingga terbenam matahari dengan niat puasa, oleh orang muslim yang berakal dan
tidak sedang mengalami haid atau nifas.
4. Ibadah Haji
Haji secara
etimologi berarti tujuan, kedatangan, dan pencegahan. Secara terminology haji
berarti kepergian menuju mekkah pada bulan-bulan tertentu untuk melaksanakan
bentuk-bentuk ibadah tertentu demi karena Allah.
Apapun macam ibadah yang
akan kita lakukan, yang pasti selalu menghadapi godaan baik yang berasal dari
hawa nafsu kita sendiri maupun dari setan baik dari golongan jin dan manusia,
antara lain:
perasaanmalas yang luarbiasa,
entahkarenainginmenyelesaikanpekerjaandengansegera, ataukarenakelelahan.
terhalangpekerjaan yang menumpuk.
Dalamhaliniadamemangoknum yang menghalang-halangikitaberibadah.
Misalnyadenganmendesak agar tugasituharuskitaselesaikansecepatnya.
SehinggakitaabaikansholatDhuhuratauAshar. Orang yang menghalangi orang lain
beribadahmendapatmendapatsiksaanduniaakhirat. Dan siapakah yang lebihaniaya (selain) dari
orang- orangyangmenghalangimenyebutnama Allah dalam masjid-masjid
danberusahauntukmerobohkannya? Merekaitutidaksepatutnyamasukkedalamnya (masjid
Allah), kecualidengan rasa takut. Mereka di duniamendpaatkehinaandan di
akhiratmendapatazab yang besar. (QS. 2/Al-Baqoroh: 114)
BAB III
KESIMPULAN
Aduh suram ini plagiat http://gitianisasaraswati.blogspot.com/2013/12/hubungan-ibadah-dengan-iman-dan-macam.html
BalasHapusKeren
BalasHapus